Halaman

Minggu, 05 Desember 2021

3 HAL YANG HARUS DIKUASAI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PUBLIC SPEAKING GURU



Pendidikan adalah salah satu sektor penting dalam sebuah negara dan guru adalah ujung tombaknya. Kompetensi guru harus bertumbuh dari waktu ke waktu dan tentunya mengikuti perkembangan zaman. Guru abad 21 membutuhkan kompetensi yang lebih kompleks dibandingkan dengan guru di era lalu yang sebatas membacakan teks buku dan menuliskannya di papan tulis. Ada beberapa skill yang harus guru kuasai untuk mendapatkan predikat sebagai guru abad 21. Apalagi kondisi pandemi menghadapkan para guru untuk bertransformasi dalam teknik pengajaran, dari yang awalnya offline menjadi online (sekolah jarak jauh). Profesi guru diharuskan beradaptasi secara cepat untuk menyelamatkan fungsi sekolah tatap muka yang tumbang karena covid -19. Tidak mudah tapi harus dillakukan. Koco schools merupakan platform yang mampu menjembati jet lag yang dialami guru di masa pandemi. Merupakan platform manajemen pembelajaran terintegrasi untuk mempermudah guru mengajar dengan otomatisasi digital. Dengan adanya platform mengajar tersebut, memudahkan guru dalam menjalankan tugasnya di masa daring seperti ini.

 

Sekolah Jarak Jauh yang terjadi selama pandemic ini, menurut survei KPAI tahun 2020 80 % tidak terjadi interaksi hanya memberi dan menagih tugas. Kelas online yang dinamis dan penuh interaktif pasti jadi dambaan banyak pihak.  Interaksi dalam kelas online adalah hal yang penting. Untuk mendukung adanya interaksi yang dinamis dalam kelas, salah satu skill yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah kemampuan komunikasi (public speaking). Mengingat dalam proses mengajar adanya kegiatan penyampaian informasi. Apalagi untuk guru – guru muda yang baru pertama kali mengajar,  kemampuan ini harus dilakukan, agar materi tersampaikan secara optimal.

 



Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang mampu membuat audiens memahami apa yang disampaikan oleh pemateri. Ada 3 dasar dalam public speaking yaitu

1.   Kelola Diri

Dalam mengelola diri, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu Visual (bagaimana anda terlihat saat berbicara), Vocal (bagaimana intonasi anda), dan Verbal (bagaimana penggunaan kata-kata anda).

a.    Visual

Penampilan guru dalam mengajar mempengaruhi minat siswa dalam mengikuti kelas. Penampilan di sini selain memakai pakaian yang sopan rapi dan nyaman, juga dapat diartikan dengan bahasa tubuh. Bahasa tubuh yang diwujudkan dalam bentuk postur (posisi tubuh secara keseluruhan) gesture (gerakan tubuh) dan ekspresi (mimik muka). Dalam keadaan duduk atau berdiri, haruslah tegap. Dapat ditambahkan gerakan tangan ketika memaparkan materi, dan ekpresi wajah mendukung dalam penyampaian materi, bisa dilatih di depan cermin sambil mengucapkan kata – kata.

b.    Vocal

Cara berbicara dalam public speaking juga berpengaruh dalam proses mengajar. Pitch, Intonasi, speed, dan jeda tidak hanya berlaku pada penyanyi tapi pada semua kegiatan yang melibatkan suara. Guru harus tahu suara yang dikeluarkan tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Naik turunnya nada (intonasi) juga diperjatikan agar tidak terdengar monoton, jangan terlalu cepat atau lambat dan jeda yang diambil jangan kelamaan. Semuanya harus tepat untuk membangun suasana yang dinamis ketika mengajar.

c.    Verbal

Dalam hal ini adalah pemilihan kata, jangan memakai istilah yang mungkin tidak diketahui oleh siswa. Hindari kata yang belibet, karena siswa akan bingung dalam memahaminya.

 

Berdasarkan hasil penelitian, dari ketiga point tadi yang paling memberikan efek dalam berkomunikasi adalah Visual (55%), Vocal (38%), dan Verbal (7%).

2.   Kelola Audiens

Audiens adalah orang yang kita ajak komunikasi, dalam konteks ini adalah siswa sebagai sasaran pembelajaran. Siswa sebagai penentu keberhasilan public speaking guru. Ada 3 rumus yang digunakan yaitu Eye contact, Smile, dan Speak. Kontak mata akan membangun hubungan yang baik antara guru dan siswa. Siswa merasa diajak bicara dan diberi perhatian oleh guru. Siswa juga akan lebih memperhatikan guru dan focus ke pelajaran. Senyum akan memberikan suasana hangat dan semangat sehingga komunikasi akan terasa efektif.

Untuk membuat kelas interaktif (baik untuk offline maupun online) guru dapat melakukan hal – hal sebagai berikut :

a.    Guru jangan monolog, menerangkan boleh tetapi tidak sepanjang kelas

b.    Berikan pertanyaan supaya siswa bisa menjawab dan memberi respon

c.    Ajak diskusi

d.    Sesekali berikanlah humor yang relevan atau ice breaker untuk menghilangkan kebosanan.

 

3.   Kelola Materi

Untuk menunjang percaya diri, tentu guru harus menguasai materi pelajaran. Agar materi yang disajikan mampu menarik atensi siswa, ada beberapa langkah yang bisa diikuti :

a.    Buatlah materi yang sistematis, sederhana, dan memakai aturan 3.

-  Sistematis yang artinya ada prolog, misalnya dengan menghubungkan materi dengan kehidupan sehari – hari atau masa depan, isi, dan yang terakhir penutup bisa berisi simpulan manfaat yang didapat siswa setelah mempelajari yang diajarkan oleh guru.

-       Sederhana

Pakailah kata-kata yang mudah dipahami, atau membuat materi itu direspon cepat oleh siswa.

-       Aturan 3

Materi yang baik adalah materi yang bisa diterima oleh siswa yang harus memuat 3 hal yaitu menarik, mudah diingat, dan kebiasaan. 

Dengan penguasaan materi yang baik, guru akan menunjukkan public speaking yang bagus dan tidak gugup. Materi yang dikuasai, maka semua pelajaran akan tersampaikan dengan baik.

b.    Bisa memakai alat peraga

Guru dapat memanfaatkan teknologi, melakukan demontrasi, menggunakan power point dengan slide yang menarik. Di tambah dengan adanya cerita – cerita yang mendukung, sehingga siswa antusias terhadap materi yang diajarkan.

Selasa, 30 November 2021

Popmama Parenting Academy 2021 : 5 Tips Mendidik Anak Di Masa Pandemi

                                    

                            (artikula.id)

                             

    Hidup adalah proses belajar. Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan sampai ke liang layat. Dari lahir kita belajar mulai dari merangkak, kemudian berjalan, belajar bicara dari mulai sepatah, dua kata hingga akhirnya lancar. Membaca menulis berolahraga melukis itu semua berawal dari ketidakbisaan, kemudian dikenai proses belajar sehingga akhirnya menjadi bis. Permasalahan yang datang akan mengembangkan diri kita menjadi pribadi yang lebih berkompeten. Peningkatan level dari SD, SLTP, SLTA, Perguruan Tinggi dalam dunia pendidikan menggambarkan bahwa manusia identik dengan ujian sebagai wujud dari evaluasi proses yang ada baik yang menghasilkan sertifikat maupun yang bersifat aktualisasi diri. Setiap melewati tahapan dalam fase kehidupan, kita perlu mempersiapkan diri. Anak –anak menuju remaja, perlu wawasan supaya menjadi remaja yang sehat dan berprestasi. Usia remaja yang bergejolak harus di maintenance agar menjadi pribadi dewasa yang pemikiran dan sikapnya juga matang. Itu baru dalam tahapan usia belum yang lain. Fase dalam hidup memang bertingkat – tingkat dan beraneka macam. Masa sendiri harus diisi dengan sesuatu yang bermanfaat sebagai bekal ketika memasuki masa berkeluarga. Pengendalian diri, proteksi pondasi yang kokoh dalam membangun keluarga yang harmonis adalah ciklat terciptanya masyarakat yang humanis. Apalagi kondisi pandemic seperti sekarang ini diperlukan pikiran yang sehat untuk menghadapi perjuangan ini bersama –sama. Bagaimana agar selalu “waras” di tengah himpitan permasalahan di berbagai sisi kehidupan. Keluarga adalah sector fundamental yang paling merasakan kondisi yang tidak menyenangkan ini. Ekonomi lemah, pendidikan anak yang semrawut mengakibatkan suasana rumah menjadi tidak baik. Untuk itulah, popmama.com sebagai situs yang berkecimpung dalam hal keluarga dan memiliki perhatian lebih pada kondisi kritis seperti sekarang ini membuat program yaitu PopmamaParenting Academy. Pada tahun 2021 ini tema yang diangkat adalah parents support parents. Popmama memberikan ruang agar sesama orang tua saling mendukung dengan tidak saling menjatuhkan. Di era pandemi, orang tua dituntut untuk beradaptasi dengan masalah menjadi orang tua yang multitasking, ekonomi tidak tumbang, pendidikan tetap berjalan, kesehatan terjaga, dan bahagia di segala situasi. Untuk mewujudkan itu semua, popmama Parenting Academy menghadirkan berbagai macam event yang bisa diikuti oleh sobat keluarga. Popmama parenting academy ini menyuguhkan beragam topic yan tentunya sangat bermanfaat bagi sobat papa mama. Terdapat 5 jenis mata pembelajaran yang ada dalam kurikulumnya yaitu edukasi, kesehatan, pencegahan kekerasan anak, ekonomi keluarga, dan komunitas.

    Pembelajaran harus tetap berlangsung meskipun tidak ada tatap muka. Keluarga menjadi sekolah dan orang tua berperan sebagai gurunya. Kondisi pandemi yang tak terelakkan membuat para orang tua kalang kabut. Namun tenang, berikut ini ada 5 tips yang bisa sobat papa mam lakukan dalam mendidik anak di masa pandemi

1. Jangan Panik

Tak mudah untuk tetap tenang dalam kondisi ketidakpastian ini. himpitan ekonomi yang melanda, lumpuhnya aktivitas baik keagamaan, pembelajaran, sosial tak pelak memberikan kegalauan dalam setiap rumah tangga. Perlu adanya sikap dan pikiran yang dingin dalam menghadapinya.  Sedikit demi sedikit, pikiran positif harus dimiliki oleh papa dan mama, karena dengan hati yang tenang, maka solusi akan ada di depan mata, semua yang dilakukan akan lancar karena tidak dilandasi dengan keluhan semata.

2. Dampingi Anak Ketika Melakukan Aktivitas Belajar

Ditiadakannya proses belajar mengajar secara offline membuat pihak sekolah harus menempuh cara lain agar anak didik tetap mendapatkan hak belajarnya yaitu dengan online. Dalam tahap ini, anak jangan dibiarkan melakukan kegiatan sendiri, walau mereka sudah terampil menggunakan smartphone. Orang tu harus punya andil ketika anaknya belajar. Selain supaya anak tetap fokus ketika guru menjelaskan juga memberikan tugas, anak juga merasa diperhatikan. Anak tidak kehilangan sosok guru yang biasa mendampingi mereka ketika belajar di sekolah. Banyak kasus, belajar online, anak asyik menggunakan gadgetnya untuk bermain. Pengawasan orang tua sangat penting dalam hal ini. Jangan malu apabila pertanyaan anak belum bisa papa mama jawab, berkata jujur dan ajak anak mencari jawabannya bersama-sama.

3. Dukung Selalu Anak Dalam Berkegiatan Positif

Dulu sebelum pandemi, sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah. Namun, sekarang seharian mereka berada di rumah, melakukan apapun di sekitar rumah. Untuk mengurangi kepenatan, maka orang tua perlu berdiskusi dengan anak agar mereka melakukan kegiatan yang disukai, misalnya membuat prakarya, melukis, membuat kue, berolahraga, selalu gunakan kata-kata postif dalam men-support mereka. Selain itu, masa pandemi ini, cocok untuk melatih skill mereka dalam mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencuci piring, mencuci baju, menyapu. Perintahkan mereka dengan sopan dan halus, kalau mereka melakukan kesalahan, jangan langsung menghardiknya ya papa mama.

4. Membuat Jadwal Bersama

Untuk menghindari adanya rutinitas yang monoton, maka keluarga bisa mengadakan diskusi untuk membuat jadwal bersama. Contohnya, pagi sampai sore papa bekerja, siang mama belajar bersama anak, malam beraktivitas santai sambil menonton tv. Harus ada kesepakatan bersama agar masing-masing individu dalam rumah merasa terlibat dan bertanggung jawab atas jadwal yang telah dibuat.

5. Diskusi Tentang Pandemi

Terakhir tapi bukan akhir. Dalam keadaan santai, perlu diadakannya pembicaraan dari hati ke hati untuk membahas tentang virus covid-19 yang melanda seluruh dunia yang menyebabkan kevakuman. Berikan penjelasan kepada anak (jika anak sudah bisa diajak bicara) bahwa dengan menjadi keluarga yang kokoh dan saling menyayangi maka apapun masalahnya akan bisa dilalui bersama. Pandemi bukan untuk ditakuti tapi untuk dilewati dengan senang hati, karena semua orang di seluruh dunia juga mengalami. Jadi, buang jauh-jauh rasa kecil hati. Berikan pengetahuan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus misalnya tentang jaga kebersihan, sering cuci tangan, jaga jarak dan memakai masker, serta melakukan vaksin.



    

1. 

Rabu, 24 November 2021

Gugu lan Tiru

 

Sejatinya setiap orang yang memberikan ilmu layak disebut guru. Bukan hanya yang terbiasa mengajar di depan kelas. Mencari pendidikan tak sebatas hanya di sekolah. Sekolah adalah tempat mendapatkan ijazah yang bisa ditukar dengan pekerjaan. Aih, terlalu berat kalimat itu kawan. lupakan.

Mengenal kata guru, ketika saya masih SD. Pulang pergi tak lupa mencium tangan bapak atau ibu guru. Merekalah yang membuatku bisa membaca menulis dan berkreasi. Mereka adalah katalis pendidikan. Tanpa guru, sekolah akan muram, tak bertaji. Siapa yang menerangkan materi? Siapakah yang akan menjawab pertanyaan?

Masa pandemic ini, menjadikan banyak orang tua menjelma menjadi guru. Fungsi orang tua seharusnya memang seperti itu. Guru bagi anak-anaknya. Namun nyatanya banyak yang keberatan, buat apa membayar SPP sekolah kalau masih disibukkan dengan mengajari anak-anaknya materi yang begitu menyulitkan. “sudah susah nyari duit sekarang ditambah lagi tugas anak, hidup memang tak memihak pada ekonomi rendah”.

Anak-anak pun juga frustasi. Terlalu lama di rumah, bukannya menyenangkan malah menjadi bulan-bulanan orang tua yang menuntut tugasnya segera dirampungkan. “ah, aku kangen guru dan sekolah. Begitu kira-kira suara hati seorang murid.

Mungkin posisi guru menjadi sosok yang paling dirindukan di sekolah di masa sekarang ini. Susah juga belajar sendiri, bingung mau bertanya ke siapa, google bisa menjawab tapi buat apa kalu tak bisa bikin paham. Alih – alih paham, anak malah selancar mencari kesenangan yang lain. Teknologi memang perlu maju, tapi jika tak ada pendamping yang tepat, sebaik apapun alatnya tak akan bisa menyelesaikan tugas sesuai harapan.

Bagi saya yang dulu alumni sekolah analis kimia, peran guru sangat diperlukan. Bagaimana rasanya menyusun reaksi Hcl 0,1 N direaksikan NaOH 0,25 N menjadi NaCL dengan berapa N??bisa dibayangkan betapa mumetnya kami jika hanya bertanya pada mbah google. Untung saya sudah lulus, jadi tidak ikut merasakan semrawut mengerjakan tugas kimia analisis. Heuheuheuhe.

Terlepas dari huru hara guru pns guru honorer guru tetaplah sosok panutan pengganti orang tua di sekolah. Siapapun gurumu muliakanlah. Dari dialah pembuka pintu gerbang pengetahuan.

selamat hari guru 2021

Minggu, 21 November 2021

Mendulang Prestasi Dengan Literasi

(sumber : http://2.bp.blogspot.com/)

 “Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,

di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,

di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,

di tempat penjualan buku laris dibeli,

dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu

tidak berselimut debu

karena memang dibaca”.

 

Bait terakhir penggalan puisi karya Taufiq Ismail yang berjudul Kupu-kupu di dalam Buku merupakan suatu bentuk kritikan pada kita semua, masyarakat Indonesia, yang memiliki minat baca yang begitu rendah. UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Tingkat literasi kita juga hanya berada pada rangking 64 dari 65 negara yang disurvei. Satu fakta lagi yang miris tingkat membaca siswa Indoneisa hanya menempat urutan 57 dari 65 negara (Republika, 12 September 2015)

Semakin banyak penduduk suatu wilayah yang semangat mencari ilmu pengetahuan, maka akan semakin tinggi peradabannya. Budaya literasi sejatinya membutuhkan dukungan politik dari Pemerintah dan DPR. Budaya literasi berkaitan dengan masa depan bangsa, karena itu perlu mendapat perhatian serius. Perlu adanya dukungan dari berbagai lapisan masyarakat di berbagai sector dalam membangun peradaban membaca buku. JNE merupakan salah satu perusahaan swasta yang mendukung kemajuan literasi dengan meluncurkan berbagai macam program, misalnya JNE mengirim buku gratis ke Wamena sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan anak usia dini, JNE berkolaborasi dengan Yayasan Anak Lebah Indonesia dalam pengiriman donasi 1000 buku untuk Rinjani, dan yang terbaru ini adalah kolaborasi dengan para pegiat literasi ternama tanah air seperti kang Maman Suherman dengan menerbitkan buku Bahagia Bersama dan komikus micecartoon M. Misrad.

(sumber : https://m.brilio.net/)


Sejarah mencatat, Indonesia kaya dengan pegiat literasi yang mumpuni. Kitab Soetasoma, Negarakertakama, Baratayudha yang dikarang oleh Mpu Tantular, Mpu Prapanca, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh membuktikan bahwa nenek moyang kita bukan hanya mahir berlaut namun juga cendekia sastra. Mengapa sekarang begitu loyo dalam membaca? Derasnya kemajuan teknologi harusnya dibarengi dengan derasnya semangat membaca dan menulis. Semua orang bisa menulis dan menerbitkan buku. Kata-kata itu bukankah isapan jempol belaka. Semua bisa terjadi bila kita semua mau bekerja sama dan saling menguatkan.

Bacalah, bacalah, bacalah, tulislah, begitulah kata kang Maman dalam bukunya Aku Menulis Maka Aku Ada. Semakin banyak membaca, semakin bagus dalam menghasilkan tulisan, karena perbendaharaan katanya juga semakin banyak. Dari tulisan bisa mendapat bayaran, itu hanya efek dari kebahagiaan melakukan apa yang kita sukai. Setidaknya penulis – penulis handal seperti Habiburrahman El Shirazy, Ayu Utami, Andrea Hirata, Anwar Fuadi, Asma Nadia, Tere Liye dapat mengetuk kita untuk menyukai membaca dan menulis. Membacalah yang kamu suka, menulislah agar tidak lupa. Selama kamu melakukan keduanya, kamu tidak akan menjadi orang yang rugi.

Membuat warisan intelektual adalah tanggung jawab kita bersama. Anak cucu negri jangan hanya diwarisi oleh slogan gemah ripah loh jinawi, bukan jua dengan bukan lautan hanya kolam susu, tapi dengan hasil literasi yang bermutu, untuk mengisi jiwa – jiwa kosong agar jangan sampai hanya diisi sampah-sampah social media yang mengeringkan nurani. Satu hari satu tulisan, satu bulan membaca 1 buku, bisa kan?

 


Rabu, 17 November 2021

Menemukan Takdir

 

                                                            kegiatan diklat (foto pribadi)

dulu tak pernah membayangkan menjadi seorang pendamping koperasi. hidup memang tentang perpindahan dari satu takdir ke takdir yang lain. dengan berbaju pendamping, aku bisa menemui sosok - sosok yang mungkin saja tak bisa aku temui jika aku menjadi warga biasa. dan yang paling utama, banyak banget value kehidupan yang aku ambil dari setiap proses pendampingan yang aku lewati. bertemu dengan orang yang berbeda berarti bersiap-siap mendapatkan ilmu baru tentang apapun.

dalam pelaksanaan diklat, selain mengenal para peserta diklat, juga menambah jaringan narasumber pelatihan. kita dapat bertanya apapun, dan kapanpun, tentunya kalau punya nomor kontaknya. hahaha. gambar di atas adalah gambar diklat yang diselenggarakan oleh kantor pada bulan mei lalu. dari gambar itu. terlihat betapa bahagianya wajah para peserta. setiap peserta yang ikut, nambah jaringan pertemanan baru dan bisa jadi temen deket alias teman ghibah begitu yang disampaikan salah satu peserta padaku. asyik juga, ilmunya dapet, sodara juga dapet. eitss..uang transport juga dapet, itu sih hanya tambahan, bukan pokok.

yang pasti ketika diklat jadi tukang poto dadakan ibu2 yang pengen mengabadikan setiap momen pelatihan, buat laporan plus eksis juga. ga papa, membahagiakan orang lain kan berpahala ya. 
semoga dapat ikut berbagai diklat yang bermanfaat, bukankah hidup adalah belajar?

atau belajar adalah hidup? monggo pilih mana yang anda suka atau sukai yang anda pilih?😉😉


Selasa, 16 November 2021

tempat tersunyi

                                                        Menulislah (foto pribadi)

                                                                                

minggu ini adalah minggu-minggu yang padat di kantor. bulan november sudah hampir akhir tahun banyak banget kegiatan dan hasil dari berbagai kegiatan itu adalah LAPORAN. untungnya sudah beberapa aku cicil, lumayanlah bisa ada waktu luang barang sebentar. bosan juga nulis laporan melulu, kan pengennya nulis yang lain biar otak juga bisa travelling. hahaha. 

kebetulan aku dan suami, lagi hobi ikut lomba-lomba lebih tepatnya giveaway di instagram. alhamdulillah satu dua tiga banyak yang nyantol, tentunya doa dari uti dan saga sangat berpengaruh pada proses kemenangan giveaway. hehehe. Allah mengabulkan doa ibu kita, makanya selalu minta doa ke ibu kalian, biar doanya cepet dikabulkan.

nah, kali ini lagi fokus ikut kompetisi menulis. beberapa kali ngikutin profilnya Kang Maman, sebagai pegiat literasi, biar tahu cara menulis yang baik itu gimana. seperti masakan kan perlu tahu cara dan resepnya biar masakannya enak begitu pula dengan menulis. jadi inget pesennya Kang Maman, sebelum menulis, Bacalah, bacalah, bacalah, tulis. 

kalau mau kaya perbendaharaan kata ya bener sering-seringlah membaca buku. inget membaca buku, bukan membaca status orang ya. hehehe. kalau baca status orang, ya kadang ada ilmunya juga sih, tapi tetep bukulah yang harus nomor satu dibaca. 

sayangnya, kebanyakan orang Indonesia jarang banget yang mau membaca buku. bisa jadi 1 orang membaca 1 buku dalam waktu 1 tahun. bandingkan dengan penduduk negara lain yang selalu menjadikan buku sebagai santapannya. tentu beda kan pengetahuannya.

barusan saya baca di blog, perpustakaan adalah tempat sunyi kedua setelah kuburan. waw. paling pol perpustakaan ramai di kala mahasiswa sibuk skripsi, atau lagi banyak tugas. padahal pemerintah juga g tanggung lho banyakin program biar masyarakat giat membaca. perpustakaan keliling lah, pokoknya banyak program-program yang bagus buat naikin minat baca. tapi, balik lagi, yang namanya minat, ya dari dalam diri, kalau memang ogah, ya walaupun bukunya disodorin muka kita g bakalan dibaca juga.

kalau kamu mau menjadi penulis noval, kamu harus membaca 3 novel dalam sehari. 

kalau kamu ingin jadi penulis? baca dan menulislah sebanyak-banyaknya.

tulis yang kamu lakukan, tulis yang kamu pikirkan, tulis yang kamu inginkan yang penting tidak menyinggung siapapun dan sesuai dengan norma, maka alam akan bekerja untukmu.


kangen pantai, kamu gimana?

 


foto pantai di atas adalah pantai greweng salah satu pantai indah yang ada di kabupaten gunung kidul, daerah istimewa yogyakarta. masih segar dalam ingatan, aku dan suami pas masa-masa pengantin baru, memtuskan untuk pergi ke pantai yang masih perawan. pengen suasana private g banyak orang. berbekal informasi google, kami pun pagi-pagi berangkat ke sana. area menuju pantai greweng lumayan jauh ya kira- kira 1-2km, jalanan yang terjal melewati sawah, ladang penduduk, pokoknya asyik. pas nyampai di pantai, semua lelah terbayarkan dengan suasana pantai yang indah, sepi, karena lokasi pantai ini banyak yang dijadikan camping saja.

kami berdua benar-benar menikmati suasana. untungnya kami bawa bekal, jadi tidak kelaparan.

kangen pengen kesana lagi

ngajak saga, eh...boleh g ya sama utinya??? 

pantai, bolehkan kami berkunjung lagi

ada sisi romantis yang ingin aku jemput bersamamu disana.

tunggu kami kembali